Kunamai Kau Dengan, Rindu :)



Satu. Rindu. Cuma itu.

Kamu tak perlu tau seberapa sering aku menyimpan rindu untukmu dan aku mulai gelisah karena itu. Bagiku ini hanya soal waktu yang belum berpihak padaku. Belum saatnya membagi resah berdua denganmu. Tak perlu risaukan aku, ini memang hanya soal rindu.

Satu. Rindu. Dan terus saja begitu.

Seperti barisan kata yang sederhana untuk kamu baca, ini memang hanya sebab aku merindukan apa yang sudah lama kutahan sendirian. Entah salah atau benar, aku tetap saja merasa rindu itu kian hebat berakrobat. Sepertinya jadi ngilu waktu aku hanya bisa berucap rindu pada hatiku tanpa bisa kamu dengar betapa melengkingnya di telingaku.

Satu. Rindu. Aku menunggumu.

Lama-lama jadi siksa. Tapi tetap hanya bisa kutahan mati-matian. Sebab aku enggan mengganggumu. Kecuali menunggu. Aku hanya bisa melihatmu dalam baying-bayang yang kuciptakan sendiri. Siapa bilang menunggu itu membosankan ? Menunggumu akan selalu jadi hal yang menyenangkan. Terkadang aku ingin menjemputmu, ah, aku ini siapa ?

Satu. rindu. Jangan pernah meninggalkan aku.

Kamu begitu hebat menyemat azmat dalam purnama. Bahkan dalam rindu yang sedikit mengheningkan jiwa, kamu tetap jadi satu yang masih juga kurindu. Sudha berapa kali kusebut satu kata itu, rindu dan rindu. Tapi tak kunjung habis rinduku, malah semakin menyerbu. Kmau perlu tahu bahwa aku tetap selalu berusaha tangguh tanpamu.

Satu. Rindu. Menetaplah selamanya bersamaku.

Entah seperti apa wujudmu. Yang jelas, aku mulai membutuhkanmu setiap satuan waktu bergeser menjauhiku. Hanya kamu tak pernah tahu betapa sulitnya menahan ini semua tanpamu. Dan kunamai kau dengan rindu; rasa yang entah bagaimana caranya merangsuk makin dalam. Sebab diam-diam aku selalu menunggumu pulang kemari, kepelukku.
Satu. Rindu. Apa kau pun begitu ?



Lalu bisakah kau jelaskan ?

Sebenarnya bagian mana yang bisa kurindukan darimu? Bahkan menatapmu pun aku tak pernah. Bagian mana yang harus kurindukan darimu ? Bahkan saling bertegur sapa pun tak pernah. Bagian mana lagi yang mesti kurindukan darimu ? Padahal kita belum pernah bertemu



Lalu, bagaimana bisa rindu begitu kuat menggema di degup jantungku ? Bagaimana mungkin rindu begitu luas menyebarkan diri? Bisakah kau jelaskan ? Sebab apa aku merindumu. Padahal kamu hanya hidup dari kotak khayalku. Dan aku bertahan dari bayang-bayangmu. Bisakah kau jelaskan ??




The Anthology of Love

Salam,


Ute Hime K.





No comments :

Post a Comment